Oleh: Hasan Ridwan
Mungkin lebih bebas
Kamu tak bicara lepas
Semoga terbebas
Bicara lebih lepas
Jika tak ada apa-apa
Kenapa kehabisan kata?
Sungguh tak biasa
Matamu tak bisa berdusta
Tak ada aku
Tak perlu aku
Tak harus aku
Mungkin bukanlah aku
Teringat kembali catatan itu
Bukan untukku tetapi karena aku
"Terasa nyaman disisimu"
Sungguh berbeda, jelas sekali, bukan denganku
02102010 - "Mungkin benar bukanlah aku!!"
"Jika sudah bertekad maka bertawakallah!". Kuyakin mereka tak akan percaya. Tapi bukan itu yang aku cari. Semoga Allah membukakan jalan yang terbaik. Laa haula wala quwata illa billah.
Minggu, 03 Oktober 2010
BAIK DAN BAIK
Oleh: Hasan Ridwan
Ku mulai dengan baik
Mungkinkah berakhir baik?
Akankah ini jalan terbaik?
Kuharapkan berjalan baik
Jika kita sudah tak sama
Untuk apa terus bersama?
Sepertinya kau mulai berubah?
Entah apa yang berbeda!
Sekarang aku harus bicara
Tak ada makna tanpa bicara
Jika sudah tak ada cinta
Aku tak bisa terus memaksa
02102010 - "Telepon itu?"
Ku mulai dengan baik
Mungkinkah berakhir baik?
Akankah ini jalan terbaik?
Kuharapkan berjalan baik
Jika kita sudah tak sama
Untuk apa terus bersama?
Sepertinya kau mulai berubah?
Entah apa yang berbeda!
Sekarang aku harus bicara
Tak ada makna tanpa bicara
Jika sudah tak ada cinta
Aku tak bisa terus memaksa
02102010 - "Telepon itu?"
SALWA
Oleh: Hasan Ridwan
Buah hatiku
Kebanggaanku
Maafkan ayah
Mengecewakanmu
Mungkin kau benar
Ayah tak sama
Mereka berbeda
Haruskah bukan ayah!?
Tapi Salwa,
Sesungguhnya bukan itu
Ayah pernah membaca
Tak mesti sama
Salwa,
Itu bukan utama
Mereka boleh berbangga ria
Mereka memang lebih dari kita
Tapi Salwa,
Jalan mereka tidaklah sama
Tak pantas menghalalkan cara
Hanya untuk kenikmatan dunia
Salwa,
Ada HALAL dan HARAM
HALAL menjadi berkah
HARAM menjadi musibah
Salwa,
Jika HARAM yang ayah bawa
Yang kau makan menjadi HARAM
Darah yang mengalir di tubuhmu pun menjadi HARAM
Salwa,
Tak mesti sama
Ayah akan terus mencoba
Merncari jalan dengan membaca
Salwa,
Dulu ayah tak sama
Kamu harus berbeda
Agar bahagia, tidak hanya di dunia
02102010 - "Untuk Salwa, anakku"
Buah hatiku
Kebanggaanku
Maafkan ayah
Mengecewakanmu
Mungkin kau benar
Ayah tak sama
Mereka berbeda
Haruskah bukan ayah!?
Tapi Salwa,
Sesungguhnya bukan itu
Ayah pernah membaca
Tak mesti sama
Salwa,
Itu bukan utama
Mereka boleh berbangga ria
Mereka memang lebih dari kita
Tapi Salwa,
Jalan mereka tidaklah sama
Tak pantas menghalalkan cara
Hanya untuk kenikmatan dunia
Salwa,
Ada HALAL dan HARAM
HALAL menjadi berkah
HARAM menjadi musibah
Salwa,
Jika HARAM yang ayah bawa
Yang kau makan menjadi HARAM
Darah yang mengalir di tubuhmu pun menjadi HARAM
Salwa,
Tak mesti sama
Ayah akan terus mencoba
Merncari jalan dengan membaca
Salwa,
Dulu ayah tak sama
Kamu harus berbeda
Agar bahagia, tidak hanya di dunia
02102010 - "Untuk Salwa, anakku"
BAGAIMANA?
Oleh: Hasan Ridwan
Kalaupun sudah tak sama
Aku ikhlas
Tak bisa terus memaksa
Mungkin jalan kita sudah berbeda
Mungkin bukan aku
Meski aku terus memaksa
Untuk apa tetap bertahan?
Di hatimu sudah bukan aku
Biar kurasakan
Apa yang pernah kau rasakan
Biar kujalani
Apa yang pernah kau alami
Bagaimana?
Aku yang maju?
Atau kamu?
Aku ikhlas saja
Kuharap yang terbaik
Untukmu dan masa depanmu
Jangan pedulikan aku
Biar kujalani hukumanku
02102010 - "Bagaimana?"
Kalaupun sudah tak sama
Aku ikhlas
Tak bisa terus memaksa
Mungkin jalan kita sudah berbeda
Mungkin bukan aku
Meski aku terus memaksa
Untuk apa tetap bertahan?
Di hatimu sudah bukan aku
Biar kurasakan
Apa yang pernah kau rasakan
Biar kujalani
Apa yang pernah kau alami
Bagaimana?
Aku yang maju?
Atau kamu?
Aku ikhlas saja
Kuharap yang terbaik
Untukmu dan masa depanmu
Jangan pedulikan aku
Biar kujalani hukumanku
02102010 - "Bagaimana?"
Minggu, 19 September 2010
Ku mohon pada-Mu
"Allahumma innii as'alukal hudaa wattuqaa wal'afaafa wal ghinaa" (Ya Allah, aku memohon hidayah, jiwa yang bertakwa, kesantunan dan kekayaan dari-Mu) (HR. Muslim)
SEGALA KEADAAN SANGAT BAIK
Abu Yahya (Shuhaib) bin Sinan Arrumy RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin, sebab segala keadaannya untuk ia sangat baik, dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi seorang mukmin: jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya, dan bila menderita kesusahan; sabar, maka kesabaran itu lebih baik baginya" (HR. Muslim)
MIMPI KAYA DALAM TIDUR MEREKA
Oleh: Hasan Ridwan
"Tidur-tiduran itu untuk orang kaya, berarti kamu sudah kaya tidur-tiduran segala!"
Pertanyaanku, apakah benar tidur-tiduran hanyalah hak prerogatif yang dimiliki oleh orang-orang kaya? Bagaimana dengan mereka yang belum kaya? Yang ingin kaya? Sedang bermimpi menjadi orang kaya?
Saya jadi teringat Rhoma Irama: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin!
Orang kaya sepertinya memiliki nafas yang lebih panjang. Meskipun mereka tidur-tiduran dalam waktu sehari, dua hari, satu minggu atau bahkan sampai dengan satu bulan, pasti mereka masih mampu untuk bernafas. Mereka tak perlu cemas memikirkan resiko belanja kebutuhan sehari-hari, darimana menutup biaya operasional sebagai tuntutan gaya hidup mereka. Mereka dapat dengan sangat mudah mengaturnya dengan mencairkan bunga depositonya, menarik dana tunai via atm, mengambil laba perusahaan dll. Kondisi yang paling buruk pun mereka masih bisa bernafas lebih panjang dengan menjual sebagian aset yang mereka miliki.
Bagaimana dengan yang lain? Boro-boro punya deposito, tabungan apa mereka tidak punya. Boro-boro menjual aset, rumah saja mereka tidak punya! Kenyataan hidup yang senantiasa mereka hadapi, bagaimana mereka bisa memberikan makan bagi anak-anak dan istri mereka? Mereka sudah tak peduli dengan yang namanya makanan bergizi, yang penting hari ini mereka bisa makan dengan apa! Masih banyak juga diantaranya yang kebingungan, bagaimana mereka bisa melindungi anak-anak dan istri mereka dari sengatan panas matahari atau melindungi mereka dari begitu deras dan dinginnya air hujan. Mereka semua tidak memiliki rumah untuk sekedar berteduh! Hari ini kehujanan, mereka bingung untuk memakai baju yang mana keesokan harinya. Baju mereka itu, subhanallah, limited edition, hari ini pakai esok hari juga pakai.
Jika mereka belum mampu mengeluarkan seluruh tenaga mereka sampai benar-benar terkuras, jika cucuran keringat mereka belum benar-benar habis, rasanya mereka belum bisa mendapatkan sesuatu. Ketika tenaga sudah benar-benar lemas, keringat pun sudah tak bisa menetes lagi, apa yang mereka dapatkan sungguh tak sebanding dengan apa yang sudah mereka perjuangkan. Allahhu Akbar!!! Maafkan hambamu dengan ketidakmampuannya.
Pernahkan kalian melihat seorang bapak yang sudah tua renta menjajakan air bersih dengan rodanya dari rumah ke rumah? Pernahkah kalian melihat seorang ibu yang sudah sepuh berjalan membungkuk dan tertatih-tatih sambil menengadahkan mangkok mengharapkan belas kasihan orang lain? Pernahkah kalian melihat seorang bapak dengan banyaknya benjolan yang menempel di seluruh tubuhnya duduk bersimpuh mengharapkan pertolongan orang di perempatan jalan? Subhanallah, banyak sekali di antara kita yang benar-benar belum beruntung.
Ya Allah, maafkan hambamu yang lemah ini, yang tak mampu berbuat apa-apa melihat kenyataan yang ada. Hamba hanya bisa meratap, menangis dan menjerit dengan berbagai ketidakmampuan hamba. Sungguh hamba adalah umatmu yang sangat lemah.
Ya Allah, berikan pertolongan-Mu. Tunjukkan jalan-Mu kepada orang-orang yang mengaku kaya itu. Bukakan hati mereka agar mau berbagi kebahagiaan dengan mereka yang belum beruntung itu.
Jika saja mereka yang belum beruntung itu belum menjadi orang kaya, ijinkan saja mereka untuk tetap bercita-cita agar kelak bisa menjadi orang yang kaya. Biarkan saja mereka meneruskan tidur-tiduran mereka. Agar mereka benar-benar bisa menjadi orang kaya. Meskipun semua hanya ada dalam mimpi buah tidur mereka.
09092010-"Mereka-mereka yang tetap bekerja ketika orang-orang lain sedang menikmati liburannya"
"Tidur-tiduran itu untuk orang kaya, berarti kamu sudah kaya tidur-tiduran segala!"
Pertanyaanku, apakah benar tidur-tiduran hanyalah hak prerogatif yang dimiliki oleh orang-orang kaya? Bagaimana dengan mereka yang belum kaya? Yang ingin kaya? Sedang bermimpi menjadi orang kaya?
Saya jadi teringat Rhoma Irama: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin!
Orang kaya sepertinya memiliki nafas yang lebih panjang. Meskipun mereka tidur-tiduran dalam waktu sehari, dua hari, satu minggu atau bahkan sampai dengan satu bulan, pasti mereka masih mampu untuk bernafas. Mereka tak perlu cemas memikirkan resiko belanja kebutuhan sehari-hari, darimana menutup biaya operasional sebagai tuntutan gaya hidup mereka. Mereka dapat dengan sangat mudah mengaturnya dengan mencairkan bunga depositonya, menarik dana tunai via atm, mengambil laba perusahaan dll. Kondisi yang paling buruk pun mereka masih bisa bernafas lebih panjang dengan menjual sebagian aset yang mereka miliki.
Bagaimana dengan yang lain? Boro-boro punya deposito, tabungan apa mereka tidak punya. Boro-boro menjual aset, rumah saja mereka tidak punya! Kenyataan hidup yang senantiasa mereka hadapi, bagaimana mereka bisa memberikan makan bagi anak-anak dan istri mereka? Mereka sudah tak peduli dengan yang namanya makanan bergizi, yang penting hari ini mereka bisa makan dengan apa! Masih banyak juga diantaranya yang kebingungan, bagaimana mereka bisa melindungi anak-anak dan istri mereka dari sengatan panas matahari atau melindungi mereka dari begitu deras dan dinginnya air hujan. Mereka semua tidak memiliki rumah untuk sekedar berteduh! Hari ini kehujanan, mereka bingung untuk memakai baju yang mana keesokan harinya. Baju mereka itu, subhanallah, limited edition, hari ini pakai esok hari juga pakai.
Jika mereka belum mampu mengeluarkan seluruh tenaga mereka sampai benar-benar terkuras, jika cucuran keringat mereka belum benar-benar habis, rasanya mereka belum bisa mendapatkan sesuatu. Ketika tenaga sudah benar-benar lemas, keringat pun sudah tak bisa menetes lagi, apa yang mereka dapatkan sungguh tak sebanding dengan apa yang sudah mereka perjuangkan. Allahhu Akbar!!! Maafkan hambamu dengan ketidakmampuannya.
Pernahkan kalian melihat seorang bapak yang sudah tua renta menjajakan air bersih dengan rodanya dari rumah ke rumah? Pernahkah kalian melihat seorang ibu yang sudah sepuh berjalan membungkuk dan tertatih-tatih sambil menengadahkan mangkok mengharapkan belas kasihan orang lain? Pernahkah kalian melihat seorang bapak dengan banyaknya benjolan yang menempel di seluruh tubuhnya duduk bersimpuh mengharapkan pertolongan orang di perempatan jalan? Subhanallah, banyak sekali di antara kita yang benar-benar belum beruntung.
Ya Allah, maafkan hambamu yang lemah ini, yang tak mampu berbuat apa-apa melihat kenyataan yang ada. Hamba hanya bisa meratap, menangis dan menjerit dengan berbagai ketidakmampuan hamba. Sungguh hamba adalah umatmu yang sangat lemah.
Ya Allah, berikan pertolongan-Mu. Tunjukkan jalan-Mu kepada orang-orang yang mengaku kaya itu. Bukakan hati mereka agar mau berbagi kebahagiaan dengan mereka yang belum beruntung itu.
Jika saja mereka yang belum beruntung itu belum menjadi orang kaya, ijinkan saja mereka untuk tetap bercita-cita agar kelak bisa menjadi orang yang kaya. Biarkan saja mereka meneruskan tidur-tiduran mereka. Agar mereka benar-benar bisa menjadi orang kaya. Meskipun semua hanya ada dalam mimpi buah tidur mereka.
09092010-"Mereka-mereka yang tetap bekerja ketika orang-orang lain sedang menikmati liburannya"
Langganan:
Postingan (Atom)